Panduan Lengkap: Gap Year 2020/2021


Gap year berarti menunda kuliah selama setahun atau lebih setelah lulus sekolah.

Buat calon atau pejuang gap year, di artikel ini aku akan mencoba ngasih beberapa perspektif yang mungkin akan bermanfaat, khususnya bagi kamu yang sudah berencana atau secara terpaksa gap year.

Jika perlu, kamu bisa juga bookmark artikel ini untuk kamu baca-baca lagi di kemudian hari.

Artikel ini membahas seluk-beluk gap year meliputi:

  • Apa itu gap year
  • Kenapa gap year direkomendasikan
  • Manfaat dan risiko
  • Kegiatan untuk mengisi gap year
  • Rencana belajar persiapan UTBK untuk pejuang gap year

Apa itu Gap Year?

Gap year berarti menunda kuliah selama setahun atau lebih setelah lulus sekolah.

Jadi ketika lulus SMA/sederajat ga langsung lanjut kuliah, tapi berhenti dulu dan baru daftar di tahun depannya.

Di Indonesia saat ini gap year menjadi pilihan kurang populer bagi lulusam SMA/SMK/MA. Banyak yang menghindari nunda kuliah setahun dan memaksakan diri harus kuliah hanya untuk menghindari berbagai stigma.

Padahal, banyak perguruan tinggi terbaik dunia, seperti Harvard University, memberikan pilihan untuk menunda kuliah setahun bagi calon mahasiswanya.

Meski konteksnya ga sama persis dengan di Indonesia, tapi esensinya kurang lebih sama: mereka menyarankan atau memberikan pilihan ke mahasiswa barunya untuk menunda kuliah setahun.

Kenapa Gap Year Direkomendasikan?

Seperti yang aku singgung di atas, beberapa universitas top dunia seperti Harvard, Princeton, Tufts, dan New York University  merekomendasikan atau memberikan pilihan bagi mahasiswa barunya untuk nunda kuliah setahun. Bahkan, Harvard University telah merekomendasikan opsi ini selama lebih dari empat dekade.

Kenapa?

Soalnya siswa yang telah mengambil gap year mengaku mendapatkan pengalaman yang sangat berharga ketika gap year sehingga mereka menyarankan semua siswa Harvard untuk mempertimbangkan untuk mengambil gap year juga.

Emangnya kenapa sih para perguruan tinggi top ini merekomendasikan gap year?

Banyak penelitian yang menunjukkan dampak positif terhadap mahasiswa yang mengambil gap year.

Di Australia dan Inggris, para peneliti menemukan bahwa mengambil gap year memiliki dampak positif yang signifikan terhadap prestasi akademis siswa di perguruan tinggi (Birch dan Miller 2007; Crawford dan Cribb 2012).

Di Inggris dan di Amerika Serikat, anak yang telah mengambil gap year lebih mungkin untuk lulus dengan nilai rata-rata yang lebih tinggi daripada yang langsung melanjutkan ke perguruan tinggi (Crawford and Cribb 2012, Clagett 2013).

Dari hasil survei ke anak-anak yang mengambil gap year juga demikian, hampir semuanya setuju bahwa gap year telah berdampak positif bagi mereka khususnya dari segi personal.

Tentunya apa yang didapatkan oleh masing-masing anak yang mengambil gap year bisa berbeda-beda, karena dari awal mungkin tujuannya ambil gap year berbeda dan ngisi gap yearnya juga beda-beda.

Beberapa Anggapan Keliru tentang Gap Year

Jika gap year memang direkomendasikan, kenapa sih banyak siswa atau orang tua yang menghindari gap year?

1. Gap Year = Nganggur Setahun?

Nah biasanya anak-anak yang gagal lolos berbagai seleksi PTN mikirnya kalau gagal kuliah tahun ini tapi kuliah di tahun depan itu berarti nganggur setahun.

“Gila apa! Setahun nganggur? Mau ngapain aja gue? Pasti bosen abis!”

Nganggur setahun ini istilah aja, sih.

Ketika kamu berhenti sejenak dari sekolah atau kuliah, bukan berarti kamu juga berhenti belajarnya, bukan berarti kamu nggak ngapa-ngapain.

Pendidikan itu nggak cuma bisa didapet di sekolah atau kampus aja, tapi bisa juga dari buku, video, kursus, atau terjun langsung di lapangan.

Waktu satu tahun itu kesempatan kamu buat ngelakuin hal-hal yang nggak sempat kamu lakuin dan belajar banyak hal lain yang nggak sempat kamu pelajarin di sekolah dulu.

Intinya sih, banyak banget pilihan kegiatan yang bisa kamu lakukan selama setahun tersebut, tentunya sambil nyiapin ujian masuk perguruan tinggi tahun depannya

2. Gap Year = Tertinggal Setahun?

“Waduh gimana nih kalau ambil gap year, gue jadi ketinggalan ama temen-temen angkatan gue! Apa kata dunia?!”

Banyak anak yang khawatir kalau dia ambil gap year berarti tertinggal setahun dengan teman-teman seangkatan yang sudah kuliah duluan. Entah khawatir tertinggal setahun dari segi kuliah maupun tertinggal setahun dari segi karier atau pekerjaan nanti.

Kita bahas dari segi kuliah dulu. Kuliah itu berbeda dengan sekolah.

Kalau di sekolah memakai sistem paket, artinya mapel yang kamu pelajari sudah ditentukan oleh sekolah sama untuk semua siswa satu jurusan. 

Sedangkan kalau di kuliah, kamu punya fleksibilitas untuk ngambil, nunda, ngedrop mata kuliah di tengah jalan, atau nyodok mata kuliah kalau udah memenuhi persyaratan untuk ikut mata kuliah tersebut.

Jadi lama kuliah seorang mahasiswa ditentukan oleh pilihan dan peforma mahasiswa itu sendiri. Jadinya ada mahasiswa yang lulus S1 dalam waktu 3 tahunan, tapi ada juga mahasiswa yang kuliah sampai belasan semester belum lulus-lulus. So, dalam satu angkatan pun, yang masuk kuliahnya bareng, lulusnya bisa berbeda-beda kok.

Untuk lebih jelasnya, kamu bisa baca artikel ini: Apa Bedanya Kehidupan Kuliah dengan Masa SMA?

Dalam hal karier atau pekerjaan juga demikian, selisih setahun di dunia kerja itu nggak signifikan, karena skill-lah yang jadi pertimbangan utama ketika kerja.

Banyak anak yang sebelum nyampe usia 30 tahun sudah jadi manager, atau bikin startup yang sukses, beberapa dari mereka membawahi atau mempekerjakan orang-orang yang usianya jauh di atasnya.

Sebagai bahan inspirasi, coba deh baca ini: 11 anak muda Indonesia yang berhasil masuk “30 Under 30” Forbes 2018

Kalau kamu bisa memanfaatkan gap year dengan baik, bisa jadi kamu malah bisa menemukan cita-cita yang ga pernah kepikiran sebelumnya atau menemukan career path yang nggak disangka sebelumnya.

3. Gap Year = Aib?

Apabila kamu memutuskan untuk mengambil gap year, mungkin di awal kamu bakal terasa sangat tertinggal dengan temen-temenmu.

Perjalanan hidup nggak linier.

Karena mungkin banyak temenmu yang sudah diterima kuliah. Kamu bakal lihat temen-temen upload foto pake jas almamater di Instagram bersama teman-teman baru mereka, yang mungkin saja bikin kamu kepengen. Tekanan sosial di awal masa-masa gap year, entah itu dari lingkungan, keluarga, teman, dll, mungkin akan membuatmu stres, malu atau sedih.

“Haduh malu nih gue ambil gap year! Apa kata orang-orang? Apa kata temen-temen gue?!”

Dan berbagai macam pikiran-pikiran negatif mungkin muncul di pikiranmu.

Namun hal itu bukanlah aib. Tiap-tiap orang punya ukuran keberhasilan dan jalan hidup yang beda-beda. Belum tentu banget hal-hal negatif yang ada di pikiranmu juga muncul di pikiran orang lain. Bisa jadi mereka cuek, atau malah mau bantuin kamu, pengen kasih semangat. Jadi mesti dibedain mana yang muncul di pikiran kita aja, mana yang menang bener-bener nyata diucapin oleh orang lain.

Merencanakan Gap Year

Agar gap year-mu sesuai dengan harapan, kamu nggak bisa menjalaninya dengan mengalir begitu aja. Setahun emang kesannya adalah waktu yang banyak. Tapi ketika kamu menjalaninya, siapa sangka waktu berlalu dengan cepat. Makanya, penting banget untuk bikin list apa aja yang akan kamu lakukan selama gap year, lalu bikin jadwal kegiatannya. Kalau kamu gagal merencakan dan memanfaatkan gap year dengan baik, maka sama aja dengan menyia-nyiakan usia emas buat belajar dan malah jadi tidak produktif.

Dari segi non akademis, ada banyak hal yang bisa kamu lakuin selama gap year untuk menambah pengalaman sekaligus meningkatkan soft skills yang mungkin sebelumnya nggak pernah dipelajari di sekolah, seperti jadi relawan suatu kegiatan, traveling, bikin project, bikin usaha, magang, dll.

Dalam survei American Gap Association kepada siswa gap year, beberapa aktivitas yang dilakukan di antaranya:

Beberapa skills yang wajib kamu pelajari selama gap year

Selain kegiatan non-akademis di atas, jangan lupakan kegiatan akademisnya, karena tujuan awal memang diterima di perguruan tinggi tahun depan kan?!

Beberapa skills yang penting untuk kamu pelajari selama setahun ke depan:

1. Fundamental Skills

Fundamental skills di sini mencakup thinking skills, basic mathematics, dan basic scientific thinking. Dengan fundamental skills yang lebih oke, diharapkan pola pikirmu jadi gokil dan justru jadi lebih gampang untuk belajar SBMPTN.

2. Bahasa Inggris 

Dunia kita dibatesin dengan sejauh mana kita menguasai bahasa. Sebagai bahasa komunikasi internasional, sebagian besar ilmu pengetahuan saat ini tersedia dalam bahasa Inggris. Mulai dari artikel di Wikipedia, textbook perkuliahan, e-book, sampai jurnal ilmiah; jumlahnya sangat njomplang antara bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Itu baru dibandingin secara kuantitas, belum kualitas. Keterbatasan penguasaan bahasa Inggris akan sangat menghambat proses belajar ketika kamu kuliah nanti.

3. Materi UTBK

Udah eksplorasi banyak hal dan memperkuat basic skills, pastinya pembelaran SBMPTN itu sendiri jangan kelewatan dong. Pastikan pembelajaran SBMPTN didasari pada penguasaan konsep yang mantep, deliberate practice yang efektif,  dan creative problem solving. Sejujurnya lo bakal capek banget sih di bagian ini. Tapi semua ini adalah harga yang harus lo jalani agar punya kemungkinan lulus lebih tinggi.

4. Important Insights

Important insights itu hal-hal penting yang sebaiknya kamu ketahui agar kamu bisa melihat dunia dengan kacamata baru yang berlandaskan nalar yang solid dan pengetahuan sains yang gokil. Berbagai insightful knowledge ini bisa kamu dapet melalui buku atau video dokumenter. Coba deh selain belajar buat SBMPTN, bikin jadwal juga buat baca buku atau tonton video dokumenter. Kalau kamu ga suka atau cepat ngantuk buat baca buku, kamu bisa nonton video. Intinya belajar atau cari insights sebanyak-banyaknya.

Aku pribadi, sebagai pemula, suka baca buku big history atau big picture dari suatu konsep, agar bisa dapet gambaran besarnya dulu. Misalnya Kosmos karya Carl Sagan yang ngomongin alam semesta, Sapiens karya Yuval Harari yang ngomongin sejarah peradaban manusia dari prasejarah sampai modern, atau Sejarah Dunia untuk Pembaca Muda karya Ernst Gombrich. Untuk dokumenter, kamu bisa cari di Youtube, Netflix atau Curiosity Stream (berbayar, tapi aku rekomendasikan banget).

Menjaga komitmen selama gap year

Buat yang ngambil gap year, kamu harus pinter-pinter memotivasi diri sendiri. Bagi yang gagal berkomitmen, sangat mudah buat kamu kehilangan fokus dan tujuanmu di awal.

Salah satu cara yang aku rekomendasikan banget untuk menjaga komitmen saat gap year adalah dengan mencemplungkan diri kamu di lingkungan yang sama-sama berjuang untuk SBMPTN tahun depan. Sekarang ada banyak banget grup-grup belajar, baik offline maupun online.

Penulis

Halo,

aku Ari

Alumni Sekolah Tinggi Akuntansi Negara Tahun 2011 spesialisasi Akuntansi Pemerintahan. Follow Instagramku @aricandra dan twitter @aricandra ya. Thank you! :)

Gap Year: Panduan Lengkap

 
>